Showing posts with label kritik foto. Show all posts
Showing posts with label kritik foto. Show all posts

Monday, February 28, 2011

DISKUSI FOTOGRAFI OMONG KOSONG SORE/Ongkoss "Fotografi rekam visual untuk cagar budaya" kamis 3 mare

Diskusi fotografi Omong Kosong Sore-sore/Ongkoss bulan Maret 2011, mengundang kawan-kawan bergabung:

Hari/tanggal

Kamis, 3 Maret 2011

Waktu

Pukul 12.30 WIB s/d 14.00 WIB

Tempat

Ruang utama, Gedung Indonesia Menggugat/GIM. Jalan Perintis Kemerdekaan

Diskusi

“FOTOGRAFI REKAM VISUAL UNTUK CAGAR BUDAYA” study fotografi karya studio foto Goodland (1943?-1991)

Menggali kembali ingatan kolektif tentang cagar budaya bangunan lama kota Bandung, tentunya memerlukan fotografi. Tanpa visual ini, akan sulit merangkai kembali susunan detail karya agung puncak budaya yang pernah dibangun di Kota Bandung. Sungguh disayangkan, kini kemampuan fotografi hanya digunakan sebatas untuk komoditas saja, belum ada penyadaran arti penting dokumentasi sejarah melalui fotografi. Padahal, fotografi dan arsitektur itu lahir berdampingan, tidak bisa dipisahkan.

Perlulah kajian ini dihadirkan, untuk memaknai artefak puncak budaya di kota kita ini? mari temui di diskusi Omong Kosong Sore-sore/Ongkoss, yang akan menyoal tanggung jawab fotografi pada cagar budaya kota.

Diskusi kali ini akan mengetengahkan koleksi foto milik Gustaff Harriman Iskandar, yaitu 60 koleksi karya studio foto Goodland yang di foto antara tahun 1950? hingga 1955. Membaca kembali sejarah visual bangunan kawansan alun-alun, jalan Asia Afrika hingga Braga.

Friday, January 21, 2011

FOTOGRAFI ITU ADA DI KEPALA

Pertemuan diskusi fotografi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS bulan Januari 2011.

Seperti pada pertemuan sebelumnya, forum diskusi fotografi Omong Kosong Sore-sore (Ongkoss) dipadu padankan dalam rangkaian pembukaan gelar karya fotografi bersama, sebuah ekspos karya rame-rame, yang menyoal tentang fotografi panggung, event musik Jazz yang diselenggarakan tanggal 6 dan 7 Nopember 2010 lalu, di gedung Sasana Budaya Ganesa Bandung. Kini dipajang diruang mungil, kedai kopi Mata Angin, jalan Bengawan Bandung, dari tanggal 20 Januari hingga 1 Nopember 2011. Gelar karya ini adalah titik pangkal dari rangkaian panjang, kegiatan workshop fotografi, tentang sebuah gagasan, yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk pemotretan.

Gagasan sebagai pre-visualisasi, akhirnya menjadi menu utama disamping menu lainya, di kedai ini. Ruang luar ringkas kedai yang beratapkan payung parasol, menjadi ajang obrol sore. Pertemuan diskusi Omong Kosong Sore-sore yang ke empat, menyoal tentang gagasan dalam fotografi. Hadirlah beberapa kawan-kawan yang memang setia, turut pula memberikan paparan kenapa sebentuk gagasan itu harus ada. Paparan pertama dilemparkan Deni Sugandi selaku moderator, mengenai apa itu gagasan, kenapa harus ada dan seberapa pentingkah? Pertanyaan tersebut kemudian direspon pa Agus Wahyudi, pegiat fotografi di PT. POS Indonesia.

Jauh sebelum mengenal fotografi, tugas rutin yang ia lakukan selama perjalanan Bandung-Surabaya cukup disikapi dengan mengistiratkan mata. “Tidur” selama perjalanan memang hal biasa bagi mereka yang tidak mempunyai aktifitas, namun setelah menguasai fotografi, ia meluberkan seluruh gagasan dalam jepretan kamera. Jadi ketika kesempatan ada, yang ia perlukan adalah merangkaikan cerita yang ia alami sebelumnya-melalui pengamatan, dan tentunya semuanya berawal dari gagasan kata pa Agus Wahyudi.

Berikutnya ambil contoh pengalaman Doni, salah satu partisipan diskusi ini menuturkan, bahwa gagasan itu menjadi begitu bermanfaat ketika hendak menerjemahkan pemotretan kompetisi bersepeda tingkat nasional, yang diselenggarakan KONI Jabar.

Dari awal, jauh sebelum turun dilapangan, ia mengatakan bahwa sangat perlu untuk merangkai gagasan sebelum menjepretkan kamera. Tanpa gagasan sudut cerita yang akan diambil akan bersifat sporadis, menembak sudut tanpa arah, cerita yang dihadirkan pun menjadi tidak menarik, karena tidak ada pesan yang kuat. “Awal pemotretan sih saya sikat-sikat aja, tetapi ketika sudah tiba di meja redaksi, tidak ada karya yang terpilih” liri Doni. Berbeda dengan pengalaman Nunu Nugraha, pewarta foto yang menyukai peristiwa budaya tradisi. Selalu saja, diawal liputan, gagasan haruslah ada. Yang menjadi persoalan, darimana gagasan itu bisa dirangkai? Tentunya perlu informasi pendukung untuk menentukan cerita apa yang akan digagas. Informasi bisa berasal dari penuturan nara sumber atau mereka yang pernah mengunjungi lokasi tersebut. Menurut Nunu, informasi tersebut sangat bermanfaat untuk merangkaikan cerita apa yang akan diangkat. Mulai dari sudut penafsiran pra-visualisasi, hingga perencanaan dilapangan. Tanpa gagasan, ibarat kelelawar yang berusaha keluar dari gua gelap, tanpa arah.

Informasi tersebut akan penting bilamana dituturkan secara baik dan sistematis. Mencari sumber informasi pasti membutuhkan kiat-kiat khusus. Tidak seperti informasi yang disediakan oleh mister Google, data yang akan digali, haruslah diungkap dengan cara-cara tertentu. Nunu menuturkan bahwa, dibeberapa tempat masyarakat adat, cara menggali informasi tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu pendekatan, bisa dengan cara memberikan stimulus, yang bukan berarti nilai ekonomis, namun bisa berupa bentuk barang atau produk yang bisa mendekatkan. Seperti ia contohkan dengan memberikan rokok. Dengan demikian, sipencari data bisa lebih dekat dan mengorek lebih dalam makna upacara tradisi yang akan diungkap nanti. Perlu diketahui, bahwa menggali informasi itu bergantung pada konteks budaya, nilai tatakrama atau lingkungan pendukung. Seperti yang dicontohkan oleh Mia Damayanti Sjahir. profesi fotografi ia geluti sebagai bentuk apresiasi seni dokumentasi, sehingga ia dipercaya sebagai official fotografer untuk komunitas musik jazz satu-satunya di Bandung-Klab Jazz.

Dalam pekerjaannya, Mia memandang bahwa gagasan haruslah dimunculkan terlebih dahulu. Ia sadari betul hal ini karena dalam performing, masing-masing musisi mempunyai karakter dan ekspresif yang berbeda denga musisi lainya. Bahkan untuk musik jazz yang sangat sarat bebas nilai, tetap saja, gagasan pre-visualisasi haruslah ada, untuk mendukung konteks foto tersebut.

Bagaimana kalau gagasan ada, namun ketika hendak dipaparan secara teknis tidak mendukung? “Ngopi aja dulu!” sergah Krisna Satmoko, yang biasa dipanggil Cis. Memang ia menuturkan, ketika bingkai gagasan sudah ditentukan jauh sebelum menjepretkan kamera, namun kondisi lingkungan, cuaca, suasana hati itu sangat menentukan, belum lagi aral melintang yang disebut faktor lainya. Lebih baik mengulur waktu, menjaga jarak, kemudian mengolah kembali gagasan dalam imaji. Jadi bilamana gagasan sudah tidak bisa lagi diterapkan, maka improvisasilah! Memang bukan sebebas-bebasnya, sehingga menjadi serabutan, namun bisa berawal dari satu topik atau tema yang sama, “Misalnya sekarang saya seringg memotre motor vespa antik” kata Krisna menambahi. Rangkaian benang merah yang sama, akan menyusun cerita yang menarik, tutup Krisna Satmoko.

Sebuah gagasan. Ide dasar ini memang ditanamkan jauh sebelum menggunakan kamera, sebagai alat rekam. Karena gagasan adalah sudut pengambilan imaji, pondasi dasar untuk menentukan pesan, kemudian didukung dengan informasi. Sedangkan tema adalah koridor yang mengarahkan gagasan tadi. Berpijak disini, pasti fotografi itu bukan pada tangan ketika menekan shuuter speed, atau mata menentukan framing, namun fotografi itu adalah “ideas” ada dalam pikiran. Apakah betul fotografi itu ada dikepala? Mari selami lagi lebih dalam. (denisugandi@gmail.com)

Monday, August 23, 2010

MENGGUGAH RUANG APRESIASI FOTOGRAFI, Pertemuan Ongkoss, 23 Agustus 2010

Ruang petak pulas hijau itu kini menjadi ruang diskusi. Tumpukan buku yang rindu untuk dibaca kemudian jadi tantangan buat siapa saja yang menyapanya. Ruang inilah yang ditawarkan Dadang Jauhari, leader Republic of Entertainment, untuk dinikmati bersama. Apalagi kalau bukan ruang Wawan Juanda (Alm) library, teritorial gudang ilmu yang didedikasikan untuk ruang publik komunitas kreatif. Kesempatan ini disambar forum diskusi fotografi ONGKOSS, dalam perbincangan “Ruang Apresiasi Fotografi” untuk pertemuan bulan Agustus.

Seperti biasa, entah itu jadi trend. Waktu di kota Bandung serasa penuh dengan norma-norma toleransi yang sangat tinggi sekali. Terlambat itu bukan lagi dalam hitungan detik-menit, namun jam. Hal biasalah, malah aneh kalau tepat waktu. Begitu juga dengan waktu undangan pada kegiatan forum diskusi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS, pertemuan bulan ke-tiga, hari senin, 23 Agustus 2010. Pukul empat ternyata harus kalah dengan produsen karet, akhirnya jam lima adalah angka negosiasi yang pas. Satu persatu partisipan hadir, sebutlah Sjuaibun Iljas dan Iwan Santosa selaku dosen fotografi. Riadi Raharja, Agus Wahyudi, Tisna Prabasmoro, Argus, Sandy Jaya Saputra, Eki Qushay Akhwani, Roni, Galih Sedayu dan Mia Damayanti. Acara dibuka oleh Deni Sugandi, melemparkan topik diskusi, yaitu menyoal ruang apresiasi fotografi di Bandung.


Ruang apresiasi yang dimaksud, bukan berupa bentuk fisik ruang pamer saja, melainkan bisa berupa ruang adu wacana, ruang diskusi, ruang baca, ruang presentasi ataupun ruang di dunia maya sekalipun. Kembali membatasi berbicara seputar ruang pamer-foto, di Bandung, Mia Damayanti telah membuktikannya, bahwa banyak ruang alternatif yang ada. Seperti pada pamerannya di sebuah café di jalan Bagusrangin, dalam pameran karyanya “Jazz-Poster & Post it” tanggal 11 Juli hingga 7 Agustus 2010 lalu. “Malahan dari pihak café pun tidak memungut biaya dan ketentuan-ketentuan khusus, yang misalnya harus menghadirkan orang pada acara pameran ini” jelasnya. Sebutlah, ruang alternatif seperti ini begitu banyak hadir di kota Bandung, yang konon kota kuliner, yang menandakan masyarakatnya sangat komsumtif. Entah itu di dalam kota, hingga kepuncak-puncak bukit pinggiran kabupaten Bandung utara. Mia Damayanti sangat bersukur diberi kebebasan, bisa mengapresiasikan karyanya di ruang publik-komersil ini. Tidak seperti sebuah café di Cikapayang Dago, yang memang membranding dirinya sebagai ruang apresiasi pamer karya foto, menyebut namanyapun “sangat fotografi” namun sayang sekali, pemiliknya tidak berupaya mengapresiasi karya foto. Sebut sajasalah satunya, pameran karya kawan-kawan dari kampus Unisba, dengan tajuk “Panggung Selebrasi” yang dipamerkan di café tersebut, dari tanggal 8 hingga 10 Mei 2010. Sungguh sangat prihatin, tata letak dan cara penyajiannya membunuh karya foto tersebut. (lihat artikelhttp://denisugandi.blogspot.com/2010/05/momen-artifisial-catatan-pameran.html). Jelas membuktikan, ruang alternatif tersebut kadang bisa menjadi buruk.


Sandy Jaya Saputra, yang biasa dipanggil Useng, mengungkapkan, bahwa karya pun tidak melulu harus hadir di ruang seperti itu. Dalam garapannya bersama kawan-kawannya di Brigadephoto#, ruang garasi belum jadipun bisa menjadi ruang apresiasi. (lihat Just Kick The Wall) Semuanya berpulang pada konsep apa yang hendak dibangun dan komunikasi apa yang akan disampaikan.

Berpameran karya fotografi, tentunya tidak begitu saja terjadi, selain gagasan, bentuk sajian dan promo, namun hal terpenting adalah mengkomunikasikan ide kreator. Disinilah dibutuhkan seorang kurator, menyambung lidah dari karya pameran ini pada publik. Karena ketika dihadirkan diruang publik, tentunya menjadi konsumsi penikmat foto. Komentar baik maupun buruk, akan berpulang kepada publik itu sendiri. Jadi berpameran itu adalah bentuk tanggung jawab karya. Mengapa harus berpameran?


Pasti ada alasan khusus, bila tidak mempunyai motivasi, buat apa menghabiskan dana, waktu dan tenaga. Dilihat dari motifnya, pameran dilaksanakan karena ingin mengkomunikasikan karya kepada publik. Sejatinya fotografi itu adalah mengkomunikasikan. Bila tidak ingin dihujat, dikritik, saran yang terbaik adalah narsis dibalik layar monitor komputer. Kemudian selain itu sebagai sarana untuk “jualan” Perlakuan seperti ini sering terjadi di dunia fotografi komersial, entah itu penjualan lansung karya tesebut maupun bersifat benefit, menjual citra fotografer itu sendiri.

Berikutnya bisa sebagai penanda karir, atau dalam dunia profesi pekerja seni fotografi, konsistensi berkarya adalah penting, sehingga bisa menandai hasil karya lalu dengan karya berikutnya. Motivasi lain bisa juga sebagai mencari jejaring dan branding. Bagi pekerja seni fotografi, bentuk ciri karya individual akan menjadi benda koleksi. Hal ini hanya terjadi di ruang gallery, lengkap dengan kurator sebagai “penjaja karya” pada publik. Selebihnya adalah bentuk aktualisasi diri. Bentuk kontemplatif ini bisa disebut sebagai mengajak penikmat foto menyelami suatu persoalan. Bahasa yang bisa dimunculkan adalah opini si kreator yang bersangkutan. Bila komunikasi visual tersebut dimengerti penikmat foto, maka karya tersebut tidak penting lagi.


Kembali pada ruang apresisasi pameran karya. Sepakat dikatakan bahwa ruang pamer alternatif seperti ini ada. Yang jadi persoalan adalah kehendak dari si kreator tersebut menggelar karyanya. Menurut Tisna Prabasmoro, ada dua kemungkinan, apakah karena tidak tahu bagaimana tata cara berpameran, atau tidak mempunyai keberanian. Galih Sedayu menimpali, untuk urusan manajemen pameran, ia pun telah mengusahakan bersama kawan-kawan yang lain. Dalam catatannya nyapun ia pernah membantu, diataranya pewarta foto Andri Gurnita, menyelenggarakan pameran foto di Gedung Indonesia Menggugat setahun lalu. Jadi untuk organising dan manajemen pameran pun sudah ada yang melakukannya.


Untuk masalah keberanian, Sandy melihat seharusnya dunia pendidikan; penyelenggara pendidikan atau pendidiklah yang seharusnya lebih bertanggung jawab. “Inilah fotografi Indonesia” ucap Ray Bachtiar pada kesempatan pertemuan Ongkoss sebulan lalu, menyikapi kondisi kekinian, fotografi di Indonesia. Pada akhirnya masalah ini menjadi beban bersama, karena aktifitas karya fotorgrafi yang dikomunikasikan pada publik itu adalah bentuk kedewasaan budaya kita. Pada ujungnnya, geliat fotografi di kota Bandung yang seharusnya lebih merangsang, kini kehilangan nafsunya. Karena keberanian berpameran itu bukan agenda penting lagi bagi sebagian penghasil karya visual fotografi di Bandung. Karena pilihan tersebut memang tidak pernah ada. Kenapa? (denisugandi@gmail.com)

Sunday, July 11, 2010

Pertemuan bulanan forum diskusi fotografi Omong Kosong Sore-Sore/ONGKOSS, Jumat 16 Juli 2010, Pkl. 16.00 WIB.

Undangan terbuka/gratis.

Tema diskusi

“PENDIDIKAN FOTOGRAFI INDONESIA MAU KEMANA?”

Semakin terpuruknya fotografi sebagai media apresiasi fotografi, maka seharusnya penyelenggara pendidikan fotografi harus bertanggung jawab. Tentu saja ujung pangkal dari segala kemandulan ini bukti bahwa pendidikan fotografi di Bandung loyo. Bagaimana persoalan ini berujung pangkal? Bagaimana mengurainya?

Latar sejarah pendidikan fotografi di Bandung

Geliat menyebarkan ilmu fotografi secara sistematis, jauh telah dilakukan sebelum masa penjajahan Jepang masuk di Indonesia (1942). Bisa disebut masa keemasan kolonial Belanda, yang diberikan oleh Mr. Noss, seorang warga Belanda yang menetap dan membuka kursus terbatas bagi mereka yang ingin belajar fotografi masa itu. Setelah Jepang berakhir, tampil Mr. Jap, tahun 1958, seorang Tionghoa membuka kursus proses cuci-cetak hitam putih untuk umum, di jalan Sunda Bandung dan Lan Ke Tung di Andir (Lovely Foto). Bisa disimpulkan, kedua pelatihan fotografi ini terbatas di persoalan teknis. Baru beberapa tahun kemudian, setelah kursus terbatas oleh Alm. RM. Soelarko yang bernama Fokine tahun 1971, kemudian tahun 1979, melalui Prayitno, lahirlah sekolah fotografi modern; Institute Seni Fotografi dan Disain/ISFD di jalan Riau 55 Bandung. Melalui intitusi ini, sistem manajemen telah diterapkan, termasuk alat peraga dan metode ajar.

Selanjutnya Pusat Pelatihan Fotografi Jonas/PPFJ (8 Mei 1998), yang kemudian berganti manajemen menjadi INOVA Pusat Pelatihan Fotografi dan Digital Imaging (1 Oktober 2003), salah satu perintis sekolah fotografi yang melek manajemen. Klub fotografi tua di Bandung pun ingin hadir, Perhimpunan Amatir Foto/PAF, melalui yayasannya, yang ternyata layu sebelum berkembang. Fotografi masuk di Universitas dan Institute tahun 1992 di IKJ Jakarta, sebagai program khusus. Pada tahun yang sama, lahir pula Galeri Fotografi Jurnalistik Antara/GFJA di Pasar Baru Jakarta. Tahun 1994 di Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta. Beberapa tahun kemudian, di Bandung lahirlah Program Fotografi dan Film tanggal 13 Februari 1996, dibawah naungan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan. Memasuki teknologi fotografi digital, lahir kursus singkat yang dimotori Individu dan kelompok, yang boleh dikatakan berkutat seputar persoalan teknis saja. Diantaranya Medicourse, Sekolah Fotografi Tjap Boedi Ipoeng, HUMANIKA, Komunitas Iluminati, Ari Angin Fotografi dan sitem online My Infrared Dibyo Gahari.

Dari rangkaian diatas, kursus, pelatihan, sekolah fotografi masih ada pada tatanan ajar-teknis. Semua didominasi menghasilkan sumber daya manusia untuk menjadi operator dalam industri fotografi. Sadar atau tidak, dunia fotografi kita kini hanya sebatas tukang, tererosi oleh arus yang disebut industri, yang memiliki bos bernama kapitalis. Dalam kondisi demikian sangat sulit bisa berbicara apresiasi dan kritik fotografi, karena semua penyelenggara pendidikan fotografi kompak berbicara sebatas teknis. Bisakah penyelenggara pendidikan melek, melihat bahwa substansi fotografi bukan melulu itu-itu saja. Bisakah penyelenggara pendidikan mengubah paradigmanya? Dicatat atau tersingkir dan dilupakan sejarah? Jika kondisi terakhir terjadi pada kita, inilah akhir riwatat fotografi kita.

Hari/waktu

Jumat, 16 Juli 2010. Pkl. 16.00 WIB sampai 17.00 WIB

Venue

HUMANIKA School of Photography, Jalan Sunda No. 39a Bandung (Setelah perempatan jalan Veteran- jalan Sunda)

Keynote

Riadi Raharja (Inova Pusat Pelatihan Fotografi dan Digital Imaging), *Heriwanto Aang (Program Fotografi dan Film FISS UNPAS), Iwan Santosa (Dosen Fotografi DKV Maranatha), *Asep Deni Iskandar (Dosen Fotogfrafi DKV Widyatama), Sjuaibun Iljas (Dosen Fotografi) dan Andang Iskandar (HUMANIKA School of Photography Bandung)

*Dalam konfirmasi

Moderator

Deni Sugandi

Apa itu ONGKOSS

Digagas oleh Deni Sugandi, lahir begitu saja, prematur karena sedih semakin langkanya forum diskusi yang mempersoalkan seputar fotografi, diluar perkara teknis. Bila diskusi ini kurang penting, anggap saja omong kosong belaka, namun bila bisa menyimpulkannya, diskusi ini bisa berbuah manfaat. Ongkoss bertekat turut mencerdaskan bangsa.

Info: denisugandi 081322393930

http://diskusiongkoss.blogspot.com

Wednesday, June 9, 2010

MENELANJANGI PLAGIAT SEBENARNYA: Mengupas plagiat dalam fotografi dari tema, gagasan dan bentuk

Isu plagiat, yang selalu berkonotasi seram ini, selalu mampir dalam berbagai wacana seni. Dalam wahana fotografi, kegiatan meniru dan menjiplak tersebut, hingga kini masih dalam batas abu-abu. Sampai sekarangpun, belum pernah ada kajian khusus apa itu plagiat atau bukan. Saya sendiri mencoba menyelami persoalan ini, menggali kembali peristiwa seperti ini yang pernah diungkap di media masa, dengan konteks untuk kebutuhan kompetisi fotografi.

Kembali pada tahun 1997, pada saat penyelenggaraan Salon Foto Indonesia (Foto Media, April 1998) pihak panitia dan juri menerima karya yang disebut plagiat. Tiga karya Okky Adiwijaya dinyatakan menjiplak, meniru kemudian menerbitkan dalam kontes fotografi nasional, SFI tahun 1997. Diantaranya karyanya dengan judul “Lover” peraih medali perak pada SFI ke-18 tahun 1997, yang ternyata sangat persis dengan karya foto Daniel J. Cox, dari sebuah artikel “How Pros Photograph Animals” pada majalah Popular Photography edisi Agustus 1996.

Begitu pula terulang, pada tahun 2000 lalu, karya Dedy H. Siswandi juara pertama untuk kategori Momokrom, dengan judul “Swimmer” pada SFI ke-21, disinyalir benar-benar meniru karya fotografer Choo Chee Yoong yang pernah diterbitkan dimajalah Photo Asia edisi Januari 1996.

Pada International Photo Contest, yang diselenggarakan oleh BINUS, tahun 2009, kembali tuduhan plagiat tersebut muncul. Kebebasan bersuara melalui jejaring sosial, Ricky N. Sastramiharja menyatakan dengan keras, bahwa karya Sutanta Aditya Lubis, sebagai pemenang lomba BINUS 2009 untuk kategori umum, adalah mirip dengan karya James Nachtwey, dengan judul “ Chechnya, 1996 - Ruins of central Grozny"

Sekali lagi, belum pernah ada kajian khusus. Baik itu dari fotografer senior pendahulu kita, seperti Alm. Kartono Ryadi, Santoso Alimin, Edwin Raharjo, Ir. Goenadi Haryanto, Stanley Bratawira, Paul I. Zacharia, Tubagus P. Svarajati, Budi Darmawan, Alm. K.C. Limarga, Solichin Margo, Aslam Subandi, Oscar Motuloh, jim Supangkat (baca Foto Media 1998 & 2000) tidak pernah menyatakan analisis khusus apa itu plagiat. Semua yang tertulis dalam artikel Foto Media tersebut hanya opini tanpa ada usaha untuk menjelaskan lebih dalam lagi persoalan ini. Sungguh sangat disesalkan, pekerjaan rumah ini belum pernah tuntas hingga kini, semenjak fotografi hadir pertama kali, menginjak tanah Batavia sejak tahun 1840.

Mengupas apa itu plagiat dan bukan tentunya memerlukan parameter tertentu, sehingga akan mudah untuk berpijak. Sistem menyamakan pemahaman terlebih dahulu adalah cara yang paling adil, dalam menilai apakah ini termasuk atau tidak. Arti plagiat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Online) http://pusatbahasa.diknas.go.id, yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI mempunyai arti demikian:

pla·gi·at n pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Dalam konteks visual fotografi bisa berarti meniru gagasan karya orang lain, kemudian menyatakan bahwa gagasan tersebut menjadi miliknya. Ini baru tahap gagasan saja, belum dilihat dari bentuk. Gagasan tersebut bisa saja ditiru karena faktor kognitif, sensasi-persepsi, memori dan imajinasi dalam melihat dan mencerap foto-foto yang pernah dilihat sebelumnya, kemudian dihadirkan kembali dalam bentuk gaya yang berbeda.

Bagaimana plagiat itu dikupas?

Perlu dipahami terlebih dahulu batasnya. Kita yakini terlebih dahulu bahwa dalam proses penciptaan karya tidak ada gagasan original. Sebaliknya, meniru nyaris sama itu pasti sangat memungkinkan. Jadi plagiat atau bukan akan mudah sekali dikupas. Cara apresiasi awal suatu karya foto ialah dengan mendeskripsikan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, yaitu obyek foto (subject matter) meliputi di dalamnya adalah menyebutkan karater obyek-obyek yang muncul didalam foto tersebut; orang, benda, tempat atau kejadian/peristiwa yang terjadi.

Visual elemen atau unsur-unsur yang menyusun, mengatur dan membangun foto sebagai berikut: titik, garis, bidang, bentuk, cahaya, warna, tekstur, massa, ruang dan volume disebut bentuk dan teknis (form). Deskripsi tersebut dapat dilihat dari rentang nada (shades of gray/tonal) hitam ke putih, kontras obyek, kontras jenis film/negatif (noise untuk digital) kontras kertas, format film, sudut pandang, jarak obyek, lensa yang digunakan, pembingkaian, ruang tajam, tingkat ketajaman fokus dan sebagainya.

Media. Material pembangun karya foto tersebut. Misalnya cetakan momochrome dengan menggunakan media kertas cetak tertentu, dengan proses lanjutan (paska-produksi menggunakan teknik digital imaging). Deskripsi media pun meliputi seluruh aspek yang turut membangun terciptanya ekspresi seniman pada karyanya, serta dampak yang timbul pada pelihatnya.

Terakhir adalah melihat dari gaya/style. Adalah menyangkut kondisi sosial-politik-ekonomi dan semangat jaman saat itu (zeitgeist) termasuk didalamnya gerakan seni, periode waktu serta faktor geografis, yang memperngaruhi proses penciptaan karya. Ciri seperti ini bisa dikenali dari obyek foto, teknis pemotretan dan media foto.

Mengupas tuduhan palgiat Sutanta Aditya Lubis versus James Nachtwey

Dua anak, dengan menggunakan lensa lebar, memenggal separuh kepala anak tersebut. Point of interest gambar ini bukan anak tersebut, tetapi informasi yang terkandungnnya, lingkungan dalam gambar ini menjelaskan, sama-sama sebuah produk perang; James Nachtwey menjelaskan kehancuran sebuah kota di Central Grozn di Checnya tahun 1996 (Dengan judul Ruins of Central Grozn), sedangkan karya Sutanta Aditya Lubis memaparkan “perang” himpitan ekonomi di pinggiran kota. Bila disandingkan, dua foto tersebut memang terlihat sama, baik itu pemilihan sudut pengambilan-dari atas, perspektif yang dihasilkan dari efek lensa lebar atau menghadirkan kepala anak separuh, sehingga si pemotret bisa leluasa mengeksplorasi latar pendukung yang mewakili kekuatan anak tersebut. Ide dan gagasan sama, namun maknanya bisa berbeda.

Tema dan pesan kedua foto tersebut sama, sama-sama berusaha menampilkan sisi realitas manusia yang buram. Sisi buram ini yang saya lihat tidak lagi menampilkan manusia sebagai tokoh sentral atau sebagai subyek, melainkan sebagai obyek dari sistem sosial, budaya, politik dan sistem ekonomi tertentu. Jelas keduanya menggunakan narasi visual negatif.

Bila dianalisa dari alur dan bentuk, kedua foto tersebut nyaris memiliki pola yang sama, pengambilan sudut lebar, dengan demikian dapat mengambil informasi lingkungan yang lebih banyak. Dengan penggunaan lensa lebar, perspektif menuju pada titik yang sama. Bisa diperhatikan garis maya pada karya foto Sutanta, jalur kereta api, menuju titik perspektif yang sama dengan karya Nachwey, deskripsi rentang nada/tonal menggunakan pemilihan paska-produksi hiram dan putih, intensitas cahaya pada saat pengambilan, low kontras dan aspek teknik burning-dodging.

Dalam menterjemahkan gaya, baik Sutanta dan Nachwey, sama-sama menggunakan metode EDFAT, metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecomunication, Arizona State University. Sebagai metode EDFAT mungkin tepat digunakan sebagai pembingbing dalam setiap penugasan ataupun mengembangkan suatu konsep fotogafi pribadi (Motuloh, Oscar, 1999, hal 6). EDFAT adalah suatu metode pemotretan untuk melatih optis melihat sesuatu dengan detail yang tajam. Tahapan-tahapannya yang dilakukan pada setiap unsur dari metode ini adalah suatu proses dalam mengincar suatu bentuk visual atas peristiwa bernilai (Prasetya, Andhika, 2003, hal 26).

Huruf E, berarti “Entire” dikenal sebagai established shoot, ruang luas wilayah pengamatan, “Detail” adalah suatu pilihan atas bagian terntentu dari keseluruhan padangan terdahulu (Entire). Tahap ini adalah saat penentuan Point of Interest. Sutanta mengambil mata anak yang tertutup perban, karena menderita penyakit mata, bermaksud mengantarkan menuju lingkungannya (latar). “Frame” adalah proses membingkai detail yang telah terpilih. Cara pengaturan komposisi, pola, tekstur dan bentuk subyek pemotretan antara dua karya tersebut sama. “Angle” atau sudut pengambilan, sama-sama dilakukan dari atas, top angle, karena kedua fotografer sama-sama tinggi dibandingkan si anak tersebut. Tahapan terakhir dari EDFAT, adalah “Time” tahap penentuan kehadiran anak tersebut (saya berkesimpulan tidak ada upaya pengaturan subyek) pada seting waktu yang sama, sama-sama menggunakan kecepatan tinggi, membekukan gerakan. Hanya pemilihan ruang tajam saja yang berbeda.

Palgiat itu?

Karya Sutanta dan Nachtwey, baik itu dari bentuk, gagasan dan tema, jelas karya ini bila disandikan ada kesetaraan. Persamaan karya ini, ternyata mudah sekali terjadi. Kalau memang Sutanta menyadari karya ini ada kesamaan dengan karya fotografi sebelumnya, yang pernah dikenal publik (dipublikasikan) dan kemudian dihadirkan diruang publik, misalnya dalam lomba foto, tentu saja karya ini harus dipertanggung jawabkan pada publik pula dan Sutanta harus siap menjawab. Hal demikian lumrah terjadi pada dunia jurnalistik, lihat saja karya essay foto Rama Surya “Yang kuat yang kalah” bila dibandingkan dengan karya Sebastian Salgado dalam essainya “An Uncertain Grace” sebagian besar sama dan sebangun (congruent), yang sangat dipengaruhi gaya pemotretan fotografer-fotografer pendahulunya: Henri Cartier Bresson dan Eugen Smith. Sutanta Aditya Lubis terinspirasi karya-karya James Nachtwey adalah sah-sah saja. Tetapi bilamana karya tersebut turut membuka wawasan publik dan kemudian publik bereaksi, karya foto tersebut sudah tidak penting lagi, juga tidak penting lagi berbicara apakah itu plagiat atau bukan. (denisugandi@gmail.com)

Sunday, June 6, 2010

FORUM DISKUSI ONGKOSS, 7 Juni 2010

Forum diskusi fotografi Omong Kosong Sore-sore/ONGKOSS, yang diselenggarakan tiap bulan, mengundang teman-teman pelaku, pencinta dan penikmat fotografi, untuk bisa hadir pada diskusi santei:

Hari/tanggal
Senin, 7 Juni 2010

Waktu
Pkl. 15.30 WIB s/d 16.30 WIB

Tempat
Jalan Pandu dalam I Nomor 42 (masuk dari jalan Pandu) Bandung
Rumah tinggal Dedy H. Siswandi

Wacana diskusi
“CARA HEBAT MENJADI PLAGIAT”
Kegiatan menjiplak karya selalu ada, baik itu dalam wacana seni lukis, musik maupun fotografi. Dalam media visual ini sangatlah labil, sangat rentan terhadap “pencurian” bentuk dan gagasan. Terbukti dengan lolosnya pemenang juara pertama pada penyelenggaraan lomba foto “Access to Health, yang diselenggarakan oleh IPC 2010 BINUS Jakarta. Dalam lomba foto ini, karya Sutanta Aditya Lubis mendapatkan juara pertama untuk kategori umum. Persoalannya, dengan sadar ia “menjiplak” disinyalir sama dengan karya pewarta foto James Nachtwey. Motif apa sebenarnya yang terjadi? Inikah cermin fotografi sesungguhnya di Indonesia?

Bisa dilihat di:
http://6ix2o9ine.blogspot.com/2010/05/plagiat.html
http://pixelet.multiply.com/photos/album/22/ACCESS_TO_HEALTH_The_winner_of_IPC_2010-General_Category

Dalam diskusi ini akan menghadirkan Dedy H. Siswandi, juga memiliki pengalaman yang sama, dengan karyanya “The Swimmer” pada ajang Salon Foto Indonesia beberapa tahun yang lalu. Apa pengalamannya? Mari kita nikmati bersama pada diskusi Omong Kosong Sore-sore episode pertama ini.

Forum diskusi ONGKOSS
Forum yang lahir tanpa bidan ini, terbentuk begitu saja. Hadir karena merasa perlu ada suatu dialog yang turut mengupas persoalan-persoalan seputar fotografi dengan cerdas.

Info: 081322393930 denisugandi@gmail.com